Tampilkan postingan dengan label History. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label History. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 Maret 2016

Cerita Sedih




 
 Hari ini Dodi berulang tahun. Aku ingin memberikan sesuatu yang istimewa untuknya. Sesuatu yang bisa membuatnya bahagia dan memaafkan tingkah lakuku yang tak pantas selama ini. Hari ini akan kuserahkan seluruh cintaku padanya. Kan kuberikan sepenuh hatiku untuknya. Kan kubalas hari - hari menyakitkan yang dilaluinya dengan manisnya cinta. Aku membungkus bingkisan yang telah kupersiapkan untuk kado ulang tahunnya sambil bersenandung riang. Dodi sudah lama menginginkan jam tangan ini, yang diburunya sejak enam bulan lalu. Kutemukan seminggu yang lalu saat aku tugas ke Singapura. Di hari istimewanya ini aku akan melakukan sesuatu yang spesial. Aku akan menjamunya makan malam, memberikan hadiah untuknya, dan menyatakan cintaku padanya. Ya, aku ingin kembali padanya. Aku ingin menjadi bagian hidupnya lagi. Aku ingin mengarungi dunia bersamanya. Aku bertemu Dodi setahun yang lalu, di klub fotografi tempat aku menghabiskan waktu di akhir pekan. Aku adalah pendatang baru di klub ini. Rasa penasaran melihat foto – foto spektakuler yang dihasilkan Joey, temanku, mendorongku untuk bergabung di salah satu komunitas potography di Jakarta. Sial bagiku. Di hari pertama aku bergabung, klub memutuskan untuk hunting foto di kawasan kota tua Jakarta. Sesampai di tempat tujuan, setiap fotografer langsung beraksi. Potret sana, potret sini. Ambil angle dari sana dan dari sini. Semuanya sibuk, tak terkecual aku. Bedanya, Semua orang sibuk memotret, sementara aku sibuk berkutat dengan Nikon D80 yang baru kubeli empat hari yang lalu. Ini pertama kali aku memiliki kamera SLR dan seratus persen buta bagaimana mengoperasikannya. Mau bertanya, malu. Jadi, yang kulakukan hanyalah membuka dan menutup lensa. Aku tengah mengotak – atik sang kamera saat seorang cowok dengan postur tubuh kurus mendatangiku. "Kenapa kameranya?" tanyanya. "Rusak ya?" Bingung tak tahu mau mengatakan apa. Aku hanya mengangguk - angguk tak jelas. Si cowok mengambil kamera dari tanganku, memencet - mencet tombolnya, dan mengambil foto ku dari berbagai sisi. "Bagus kok," katanya. "Kelihatannya masih baru. Nih," dia mengembalikan kamera malang tersebut. Aku hanya diam, masih bingung bagaimana mengoperasikannya. "Kok belum mulai motret?" tanyanya. "Padahal, banyak banget objek menarik lho. Lihat. Langitnya bagus banget. Dengan siluet pohon, bakal jadi poto sempurna." "Mmmmm... mmmm" aku menggumam ragu – ragu. "Sebenarnya, aku tak bisa mengoperasikannya," kataku pasrah membayangkan dia akan menertawakanku. Tapi, dia tidak tertawa. Dia mengajakku duduk di bangku kayu dan memberikan kursus kilat kepadaku. Belakangan aku tahu, namanya Dodi. Dia anggota klub senior dan seorang arsitek. Pertemananku dengan Dodi terus berlanjut. Di setiap pertemuan, dia selalu memberikan tips - tips khusus bagaimana mengambil foto yang baik, waktu terbaik untuk mengambil poto panorama, angle sempurna untuk memotret seseorang. Percakapan kami berlanjut tidak hanya seputar fotografi. Dilanjutka dengan cerita – cerita seputar pekerjaan. Dia bercerita tentang designya, aku bercerita tentang kasus-kasus di firma hukum tempatku bekerja. Dalam waktu dua bulan, kami menjadi dekat. Dodi sahabat yang baik. Dia selalu bersedia mengajariku terhadap hal – hal yang tak kuketahui tentang. Mendengarkan keluh kesahku tentang klien – klien yang menyebalkan. Menghiburku saat aku kesal. Kebaikan tulus dari seorang sahabat. Aku menyayanginya. Dan aku tahu, dia juga menyayangiku. Bahkan sangat menyayangiku. Satu hal yang terkadang sangat merisaukanku. Aku memang menyukai Dodi. Namun, aku khawatir, rasa sayangnya yang berlebihan akan membawanya menyatakan sesuatu padaku, sesuatu yang akan sangat sulit kuterima. Aku memang menyayanginya. Namun, aku tidak mencintainya. Aku mencintai seseorang yang tak pernah tahu kalau aku mencintainya. Seseorang yang kucintai diam – diam. Aku mencintai Rafie. Teman serumah saat aku tinggal di Wisma Kenanga, saat aku bekerja di Bandung. Seseorang yang sempat mengisi mimpi – mimpi malamku. Seorang yang bisa memebuat hariku di kantor terasa begitu menyenangkan hanya karena sebuah email singkat darinya. Padahal email tersebut hanya menanyakan nomor telepon seorang teman yang lain. Rasa pengecut menghalangiku untuk menunjukkan perasaanku kepadanya. Aku tetap memendamnya, hingga dia pindah ke Surabaya untuk melanjutan sekolah spesialisnya. Kepergiannya tak membuat cintaku luntur. Perasaanku tetap kuat. Yakin, suatu saat dia akan datang kepadaku. Setiap hari, hal pertama yang kulakukan adalah mengecheck facebook miliknya, dan memastikan statusnya masih Single. Saat itu akhirnya tiba. Dodi menyatakan cintanya kepadaku. Aku menerima cintanya. Bukan karena aku mencintainya, hanya karena aku tak mau kehilangan perhatian darinya. Kehilangan kebaikan – kebaikannya. Menerima cintanya hanya sekedar cara untuk membunuh kesepian dan kerinduanku akan Rafie. Terkadang, aku merasa berdosa. Saat bersamanya, aku malah membayangkan sosok Rafie. Pernah, suatu hari dia memergokiku tengah memandang foto Rafie di facebook. Aku kaget bukan kepalang, dan berpura – pura tenang menjelaskan bahwa Rafie adalah temanku, dan aku penasaran ada dimana dia sekarang. Kukira Dodi akan cemburu. Ternyata aku salah. Dia tetap bersikap biasa. Menganggap kelakuanku melihat foto laki – laki lain dengan penuh damba adalah satu hal biasa. Namun, aku tak bisa membohongi diri. Semakin lama aku bersamanya, aku semakin tersiksa. Sms – sms manis untuk mengingatkan jangan lupa makan dan shalat darinya mulai membuatku bosan. Akhir pekan mulai terasa menyiksa. Kebersamaan dengannya yang dahulu sangat kunikmati berubah menjadi siksaan batin yang tak tertahankan. Sering, aku membatalkan janji tanpa sebab, berpura – pura sibuk hanya sekedar ingin menghindarinya. Kerinduanku pada Rafie, tak jarang membuatku marah tak beralasan kepadanya. Begitupun, dia tetap baik. Mendengarkan amarahku hingga aku puas. Esoknya, semuanya seolah tak pernah terjadi. Semuanya berawal dari reuni singkat itu. Meskipun telah berpisah dengan teman – teman dari Wisma Kenanga, aku tetap intens berkomunkasi dengan mereka melalui milis khusus. Melalui milis ini kami saling memberi khabar, dan melalui milis ini pula aku mengetahui sedikit khabar tentang Rafie. Tiga tahun tak pernah bertemu, kami memutuskan untuk melakukan reuni kecil di Jogja, di rumah Harry, salah seorang teman. Jogja jadi pilihan utama karena letaknya yang strategis dari Jakarta maupun Surabaya dimana kami bermukim. Reuni yang kusambut dengan senang hati. Bayangan aku akan segera bertemu dengan Rafie membuat nafaskku sesak jika membayangkannya. Aku membatalkan janji dengan Dodi dan klub fotografi untuk hunting ke pedalaman Kalimantan demi reni tersebut. Padahal, rencana hunting ini sudah lama sekali dipersiapkan. Seperti biasa, Dodi memaklumiku. Sama sekali tidak marah dengan keputusanku. Dia tetap memberikan kebaikan seperti biasanya. Kebaikan yang membuatku malu. Dan marah. Terkadang, ingin rasanya melihatnya marah kepadaku, agar aku tak perlu merasa terlalu bersalah. Reuni tersebut berjalan lancar dan sempurna. Harry sudah jadi Direktur di salah satu organisasi yang sedang ditanganinya. Eki sudah menikah dan Roby sudah memiliki sepasang anak kembar. Hanya aku dan Rafie yang belum menikah. Rafie masih semenarik dulu. Yang membedakannya hanyalah sikapnya yang semakin bertambah matang. Gayanya masih tenang dan masih seintelektual dulu. Hal yang sangat kukagumi darinya dan membuatku selalu rendah diri jika bersama dengannya. Aku tidak menyangka, pertemuanku dengan Rafie terus berlanjut. Dia telah menyelesaikan sekolah spesialisnya di Surabaya dan berniat pindah ke Jakarta, menerima tawaran bekerja di salah satu rumah sakit swasta sebagai spesialis jantung. Kepindahannya ke Jakarta membuat hubungan kami kembali dekat. Bahkan lebih dekat daripada saat kami tinggal bersama. Aku mulai bermain api. Entah mengapa, kecanggunganku di depannya hilang, dan aku bisa bersikap biasa kepadanya. Rasa cintaku semakin menggebu. Aku semakin mencintainya. Tawaran makan malam bersama dengannya merupakan hal yang paling kutunggu – tunggu. Bahkan, beberapa malam minggu aku membatalkan janji dnegan Dodi untuk menghadiri konser musik klasik kesukaan Rafie. Begitupun, aku masih tak tahu bagaimana perasannya padaku. Hari itu hari ulang tahun Rafie. Aku memberinya surprise dengan memberikan bingkisan sederhana untuknya. Meskpin biasa, namun Rafie sangat senang dengan yang kuberikan. Dia mentraktirku makan malam di sebuah restoran di Kemang untuk merayakan ulang tahunnya. Malam itu begitu sempurna, sebelum Rafie mengantarku pulang. Hari sudah larut, menunjukkan pukul 11 malam. Namun, ada seseorang yang duduk di teras rumahku. Dody. Oh Tuhan. Mau apa dia malam – malam begini. Dia sudah terlanjur melihatku. Tak ada waktu untuk kabur, dan Rafie sudah terlanjur keluar dari mobil. Dodi menyambutku pulang. Wajahnya kelihatan lelah. Ada sorot kesedihan disana. Namun, seperti biasa. Dia tetap seperti malaikat. Tidak marah kepadaku, dan tidak menunjukkan bahwa kami memiliki hubungan khusus. Tidak sedikitpun dia menunjukkan kebencian kepada Rafie. "Hi Sheila. Aku menunggu dari tadi. Ada seseorang yang menitipkan ini padamu. Kukira, harus kusampaikan malam ini juga," dia menyerahkan sebuah bingkisan untukku. Tersenyum hangat, meskipun aku tahu hatinya pedih. "Karena si bingkisan sudah berada di tangan yang benar, aku pulang dulu ya. Senang berkenalan denganmu Rafie," dia berlalu. Setelah Rafie pulang, aku membuka bingkisan yang ternyata sebuah lensa tele yang sangat kuinginkan. Aku terenyuh ketika mengingat hari ini adalah hari jadi kami. Dan aku telah melupakannya begitu saja. Setelah kejadian itu, Dodi sedikit berubah. Perhatian yang diberikannya sudah berkurang intensitasnya. Bahkan, ajakan hunting juga mulai jarang terdengar. Namun, aku yang tengah dimabuk cinta tak terlalu memperdulikan perubahan yang semakin lama seharusnya semakin terlihat. Bahkan, aku tak mempermasalahkan, di hari ulang tahunku dia tak dapat merayakan bersama denganku dikarenakan ingin bergabung bersama teman – teman lamanya dari universitas di kota gudeg. Bagus juga, pikirku. Aku bisa menghabiskan malam ini bersama Rafie. That’s the perfect night. Aku dan Rafie merayakan ulang tahunku di sebuah restoran di Forth Season. Jamuannya bukan main. Rafie mentraktirku untuk candle light dinner dan memberikan sebuah liontin berinisial namaku. Malam yang diisi dengan penuh tawa dan canda. Tak sedikitpun aku terfikir akan Dodi. Insiden itu terjadi kembali. Sudah tengah malam, Rafie mengantarku pulang. Seperti dejavu. Seorang sosok tengah menunggu di beranda rumahku. Dodi. Masih seperti kejadian sebelumnya. Aku sudah tidak memiliki waktu untuk kabur. Dan Rafie sudah terlanjur keluar dari mobil untuk membukakan pintu mobil untukku. Namun, dia tidak seperti Dodi yang biasa kutemui. Wajahnya yang selalu tenang terlihat muram. Terlihat kecewa mungkin lebih pantas. Menyadari berada di tempat dan waktu yang salah, Rafie segera undur diri dan mengucapkan salam buatku dan Dodi. Seperti biasa, Dodi tetap sopan. Bahkan masih bisa melambaikan tangan kepada Rafie. Seseorang yang telah merebut hatiku darinya. "Aku tahu Sheila. Hubungan kita tak akan bisa berlanjut. Aku tidak ke Jogja. Aku hanya mengetes, sampai dimana perasaanmu terhadapku. Dan, feelingku selama ini benar. Kamu lebih mencintai dokter itu daripada aku." "Dodi.. Maaf...Aku.." aku berusaha mencari kata – kata pembelaan. "Sudahlah Sheila. Tak ada gunanya menyangkal. Aku sudah menyaksikan sendiri. Aku hanya ingin kamu bahagia. Selamat tinggal Sheil," dan dia meninggalkanku begitu saja. Meskipun aku mencintai Rafie, putus dengan Dodi membuatku merasa sedikit kehilangan. Aku merindakukan perhatiannya. Kesabarannya. Serta ketenangan yang selalu diberikannya kepadaku. Dia masih tetap baik. Tak sedikitpun menunjukkan tanda – tanda kebencian, padahal aku sudah jelas – jelas mengkhianatinya. Hubunganku dengan Rafie, juga bertambah dekat. Namun, dia bukan Dodi yang selalu mengerti aku. Aku selalu menemani Rafie menonton konser klasik kesukaannya. Namun, dia selalu untuk menyaksikan konser Anggun yang selalu ingin kutonton. Kurang berkelas, begitu katanya. Aku selalu mendengarkan dia bercerita tentang hobinya mengoleksi miniatur pesawat, namun selalu menunjukkan tampang pura - pura bego saat aku meminta sarannya akan foto - fotoku. Dan yang paling parah, dia masih belum menyatakan cinta kepadaku. Aku harus bertindak. Sudah hampir empat bulan kami berhubungan. Bertelepon setiap malam. Saling mengirimkan sms sekedar mengingatkan untuk makan siang. Berkencan setiap akhir pekan, jika bisa disebut kencan karena kami tak pernah mengucapkan tiga kata sakti itu. Hingga satu malam, kuputuskan untuk melangkah lebih jauh. Aku harus berani jika ingin mendapatkan kejelasan. "Maaf Sheila. Aku tidak tahu jika kamu mencintaiku." Apa? Tak tahu? Jadi apa dikiranya hubungan kami selama ini? "Sejak kapan kamu mencintaiku?" tanyanya "Sejak kita tinggal bersama di Wisma Kenanga," jawabku datar. Aku sudah tahu kemana arah pembicaraan ini. Aku mengkhianati orang yang telah mencintaiku dengan sepenuh hati demi orang lain yang tak sedikitpun mencintaiku. Menunggu seseorang yang tak layak untuk ditunggu. Aku malu. Pada Dodi. Terlebih pada diriku sendiri. Aku mencapakkan Dodi untuk seseorang yang tak layak untuk dicintai. Benar kata orang, "You dont know what you got till it’s gone" . Setelah putus dengan Dodi, aku baru menyadari bahwa aku mencintainya. "Hi Sheila. Apa khabar. Kamu cantik sekali malam ini," Dodi menyambutku di pintu apartemennya. "Baik. Kamu apa khabar? Lama tak terdengar," balasku "Baik sayangku. Maaf. Aku begitu sibuk akhir – akhir ini. Dikejar deadline. Tak pernah meneleponmu lagi," sesalnya. Meskipun telah putus, Dodi terkadang masih menelponku dan masih memanggilku ‘sayangku’. Sekedar untuk mengucapkan halo atau membicarakan klien – kliennya. "No problem," jawabku. "Selamat Ulang Tahun ya," kuserahkan bingkisan yang telah kupersiapkan. "Wow... Terima kasih.. "You don’t have to do that," "Hey. It’s your birthday," balasku. "Ok dear. Ayo masuk. Ada seseorang yang ingin kuperkenalkan padamu. For your information, kamu orang pertama yang tahu akan hal ini," Aku mengikuti Dodi masuk ke apartemennya. Perasaanku mulai tidak enak. Rencana yang mulai kususun di dalam benakku mulai porak poranda. Apakah ini sebuah firasat? Sudah ada orang lain di ruang tamu nya. Seorang wanita duduk di atas sofa, sambil memandang ke luar jendela menikmati Jakarta di waktu malam. "Sayangku, aku ingin memperkanalkan calon istriku, Annisa. Aku baru saja melamarnya," - tamat -
sumber

Jumat, 04 Maret 2016

Long Distance Relationship

Long Distance Relationship, begitulah banyak orang menyebutnya. Sebuah kisah cinta penuh cerita. Cerita tentang pengorbanan, cerita tentang kesetiaan, tentang kesabaran, tentang kedewasaan, tentang perselingkuhan hingga cerita tentang putus di tengah jalan.
“ku kayuh sepeda kumbangku….
ku berkhayal andai dapat mengantarkanku, sampai ke rumahmu…
seandainya aku bisa terbang
kan ku jelang kekasih….”
Memutuskan untuk tetap berpasangan saat mata tak saling melihat adalah hal yang luar biasa. Meski untuk itu seseorang harus siap Lelah Diterpa Rindu. Meski untuk menjalaninya seseorang perlu sekuat tenaga meredam cemburu. Cemburu pada keramaian, saat melihat sepasang manusia lainnya saling menggenggam tangan, ia hanya menggenggam angin. Saat hujan sepasang manusia berpayung berduaan, aku berpayung dengan siapa ?. Saat Sabtu malam tiba, semua orang keluar merenda kasih, aku hanya jadi penunggu rumah kos, menatap layar laptop sambil memegang tisu. Ketika di dalam cafe semua meja penuh berpasangan, meja miliknya justru selalu menyisakan satu kursi kosong. Ini tak adil, bukan ?.
Memutuskan untuk tetap berpasangan saat raga tak saling dekat adalah hal yang luar biasa. Meski untuk menjalaninya seseorang harus siap mendengarkan banyak suara-suara miring tentang nasib pelaku LDR, tentang kisah cinta jarak jauh yang kerap berujung antiklimaks.
Antiklimaks dalam hubungan jarak jauh sebenarnya kerap juga terjadi dalam kisah cinta jarak dekat pada umumnya. Hanya saja antiklimaks dalam LDR terasa lebih menyesakkan karena sering dibumbui cerita hadirnya orang ketiga. Antiklimaks dalam LDR juga terasa lebih menguras perasaan jika mengingat pengorbanan yang sudah dipersembahkan untuk mencoba mengerti dan percaya satu sama lain.
Cerita cinta jarak jauh memang kerap melahirkan banyak ending yang mengundang empati. Dan suara-suara miring tentang akhir cerita sebuah LDR membuat banyak pelakunya takut menjalani. Cerita-cerita antiklimaks hubungan LDR akhirnya sering membuat pelakunya ragu untuk tetap saling mempertahankan. Buat apa menjalani cinta begini jika akhirnya juga akan sendiri ?. Untuk apa tetap berdua jika ini hanya sebuah jomblo yang tertunda ?.
Semua orang tahu apa itu LDR. Tapi hanya pelakunya yang mengerti pasti rasanya menjalani kisah cinta jarak jauh. Mereka bahagia tapi kadang juga menderita. Mereka mencoba saling percaya tapi sering tak bisa mengelak dari rasa curiga. Menuntaskan rindu lewat suara di ujung telepon atau tatap muka lewat video tidak pernah bisa mengganti tatapan mata secara langsung. Pesan saling menguatkan kadang terasa hambar tanpa pelukan. Apalagi jika masalah melanda, menyelesaikannya dari sambungan telepon kadang malah memperburuk keadaan. Pada akhirnya mereka yang menjalani LDR kerap merasa hubungan mereka seperti bohong belaka. Mereka terikat janji tapi seperti tak memiliki, jadi apa bedanya dengan para single lain ?. Pikiran-pikiran itu akhirnya sering membuat para pelaku LDR merasa lelah.
Bicara itu mudah, berjanji dalam hati juga tidak sulit. Tapi tak ada yang lebih tahu perasaan tersiksa dari hubungan jarak jauh kecuali mereka para pelaku LDR. Tersiksa oleh rasa curiga dan cemburu. Tersiksa oleh kekhawatiran akankah hubungan ini akan bermuara indah atau hanya akan berakhir sama seperti cerita-cerita korban LDR ?. Sebenarnya tak ada beda yang benar-benar nyata antara cinta jarak dekat dan cinta jarak jauh. Selagi ada niat menjaga hati, semua masalah bisa teratasi.
Jodoh memang sudah dituliskan dalam suratan Tuhan. Tapi menyerah bukan cara yang dianjurkan Tuhan. Memutuskan untuk tetap berpasangan dalam rentangan jarak yang jauh adalah hal luar biasa yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang pilihan. Siapa bilang cinta jarak jauh hanya menghadirkan rasa jenuh ?. Justru sebaliknya, pelaku LDR adalah orang-orang yang diberikan banyak perasaan istimewa. Hanya pelaku LDR yang memahami indahnya pertemuan setelah menyimpan rindu sekian lama. Hanya pelaku LDR yang bisa menghargai pengorbanan pasangan melintas ratusan kilometer untuk bisa tiba di muka rumah, mengetuk pintu, dan mengucap “hai…”. Hanya pelaku LDR yang bisa merasakan indahnya kejutan surat di muka pintu atau berdebar-debar menanti layar skype dan chatting terbuka. Dan hanya pelaku LDR yang bisa menguji cintanya lewat ujian-ujian yang tak dialami orang lain.
Menjaga hati memang tak mudah. Apalagi ketika konflik batin dan pikiran beradu. Ketika hati ingin bertahan, tapi pikiran justru diserbu banyak godaan. Hubungan ini memang berkomitmen tapi tak pasti. Untuk apa menjaga hati jika akhirnya sendiri ?.  Rasa semacam itu kerap sekali membuat pelaku LDR tersiksa. Siksaan yang kerap menggoda para pejuang LDR untuk menyerah.
Tapi lihatlah, banyak orang yang sanggup lewati waktu dengan bahagia. Banyak orang yang dengan sederhana menjalani harinya di kejauhan hingga akhirnya bisa menjemput pasangannya di hari bahagia. Banyak pejuang LDR yang diam-diam tanpa banyak kata bisa membingkai cerita cinta abadi.
Tak ada satupun jenis hubungan, entah LDR, entah jarak dekat yang selalu berjalan mulus. Tapi banyak pejuang LDR yang berhasil melalui hari menembus jarak dan meraih bahagia. Sebaliknya, banyak pasangan satu kampus yang bubar jalan di tengah semester. Jadi apa yang ditakutkan dalam sebuah hubungan LDR selagi ada komitmen dan kesungguhan hati untuk saling menjaga dan percaya ?. Rasa curiga dan cemburu jadikanlah anugerah untuk saling mengingat. Rindu yang berkepanjangan jadikanlah pupuk untuk menyemai pertemuan yang lebih berarti di masa nanti. Bukankah rasanya indah memiliki kesetiaan dari dan untuk pasangan ?.
Bagaimana dengan orang ketiga ?. Takkan datang orang ketiga kecuali sengaja diundang. Jadi selagi hati kita terjaga untuk tak bermain dan mengundang pemeran pengganti, kita pun bisa berharap pasangan yang jauh di sana akan bertindak serupa. Godaan terhebat pun takkan pernah tega menghampiri mereka yang setia.
Banyak buku dan petuah orang ternama yang berusaha memberikan tips sukses menjalani hubungan jarak jauh. Tapi semua itu sesungguhnya cukup dirangkum lewat dua hal yaitu cinta dan syukur. Mensyukuri anugerah cinta apapun keadaannya akan membuat orang semakin dewasa. Demikian juga dalam hubungan jarak jauh ini, rasa syukur dapat mengatasi segala rintangan dan rentangan jarak.
Jangan melihat antiklimaks dari pelaku LDR yang gagal menjaga hati. Itu bukan karena jarak yang memisahkan, tapi karena cintanya yang tak ada. Jangan merangkum cerita dari para korban LDR yang gagal setia tapi berdalih jomblo yang tertunda. Itu bukan karena jarak yang terentang jauh, tapi karena hatinya yang mudah tergoda.

Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta

 

 

 

Hallo……., Namaku Leonardo Fernando, biasanya sich aku dipanggil sama teman – temanku Leo. Ini adalah kisah cintaku yang berawal dari persahabatanku.
Ceritaku ini berawal dari pada saat ketika aku duduk di bangku SMP kelas 3. Aku mempunyai sahabat yang terdiri dari 6 orang anak. Ada 3 cowok dan 3 cewek. Diantaranya ada salah satu cewek yang bernama Livia, dia adalah satu – satunya cewek yang paling dekat denganku.
Awalnya aku hanya beranggapan bahwa Livia itu sahabat yang paling care sama aku, karena dia selalu menemaniku disaat ku suka dan duka. Tetapi lama – kelamaan aku merasakan adanya rasa kepadanya yg tak ku mengerti, dan pada saat dia nggak ada di sampingku ku merasa kesepian, juga ketika dia bersama orang lain hatiku merasa marah sekali.
Tetapi aku merasa, bahwa aku tidak pantas untuknya karena dia sahabat terbaikku. Tetapi aku bingungnya, kata teman – teman dia sudah punya pacar.
Suatu ketika, dia berkata padaku,
“Leo, sebagai sahabat yang baik, aku tidak akan pernah pergi menjauh darimu atau dari siapapun. Kecuali ada yang…….”
Tiba – tiba terputus karena dia segera lari menuju kantin. Sebenarnya aku bingung, apa kelanjutan pembicaraannya itu.
Dan beberapa hari kemudian aku lihat Livia berduaan dengan Ridho (dia adalah sahabatku juga) , tapi yang lainnya (para sahabatku yang lain) nggak ada! Apa yang terjadi ?
Aku bingung ditambah lagi hatiku marah banget. Keesokan harinya Aku langsung menemui Ridho tentang yang kemarin waktu dia berduaan sama Livia.Dan aku berkata pada Ridho,
“Dho! Kamu kemaren sama Livia ngapain aja. Kamu mau macarin Livia? Apa maksudmu ?! Jangan sampai ya persahabatan kita rusak cuman gara – gara kamu pacaran sama Livia .”
“Kamu kenapa sich Leo? Aku tuch nggak pacaran sama Livia! Kenapa kamu…….”
“Nggak! Aku sich nggak seperti yang kamu bayangin!”
Setelah itu aku langsung bergegas lari menjauhi Ridho.
Seminggu telah berlalu, kecurigaanku mulai terungkap, dan ternyata memang semua itu terjadi. Aku segera menceritakannya pada sahabatku yang lain. Dan mereka semua setuju untuk tidak akan menganggap Ridho dan Livia sebagai mereka lagi.
Ternyata dibalik itu semua, Livia mengakui bahwa dia sebenarnya tidak mencintai Ridho. Hanya saja selama ini Livia merasa diberi perhatian lebih oleh Ridho. Ridho melakukan itu semua karena Ridho tau kelemahan Livia itu dengan uang.
Livia menceritakan pengalaman pahitnya itu kepadaku, karena aku yang lebih tahu keadaan hati Livia. Livia berkata padaku,
“Aku hanya mencintai seseorang yang jujur apa adanya.”
Tiba -tiba saja aku ingin berubah menjadi seperti orang yang dicintai Livia, yang lebih dewasa. Aku benar – benar bingung dengan sikapku terhadap Livia. Oh Tuhan, apa yang sedang aku alami ini?
Aku terus berdo’a sambil meminta banrtuan Yang Maha Tahu untuk mengetahui rasa apa yang aku alami.
Beberapa hari kemudian, aku telah menjadi orang yang lebih kekanak – kanakan seperti dulu. Sifat yang biasanya aku mencoba untuk menjadi lebih dewasa, kini menjadi seseorang yang jujur apa adanya seperti apa yang dikatakan Livia dulu.
Ridho menyadari perubahanku ini. Dan dia bertanya kepadaku,
“Leo, kamu cintakan sama Livia.”
“Nggak…”
“Jujur aja dech sama aku.”
“Aku bilang nggak, ya nggak.!!!”
“Sebenarnya, aku sudah tahu kok meskipun kamu bilang nggak. Kamu suka kan sama Livia.?? Ngaku aja dech… Aku ini seseorang yang telah menerima kemunafikanmu!”
“Dho! Sebenarnya aku memang suka sama Livia! Tetapi aku tidak ingin memilikinya, karena aku tahu kalau Livia mencintaimu dan juga aku nggak ingin kalau persahabatan kita pecah karena gara – gara kita memperebutkan Livia. Aku hanya ingin menjadi seseorang yang baik dan juga menyenangkan buat Livia.”
“OK! So kamu mau menjadi seorang sahabat yang menjadi rasa cinta!”
Ridho berbicara kepadaku sambil mendorongku.
Kemudian, tiba – tiba Livia datang dan langsung menolongku yang terjatuh karena aku nggak siap menerima dorongan dari Ridho.Livia langsung memarahi Ridho,
“Ridho, aku nggak suka kamu yang seperti itu! Yang kasar!”
Kemudian Livia mengajakku ke UKS. Disitu Livia berkata padaku,
“Leo, sorry ya sebelumnya. Kalau kamu memang aku nggak bisa balas cintamu itu. Aku nggak suka sama orang yang kekanak – kanakan.
Tapi disatu sisi aku juga suka sama kamu yang orangnya apa adanya! Walau kamu kekanak – kanakan, aku hanya bisa menganggapmu sebagai sahabat terbaikku saja, nggak lebih.”
Setelah Livia berkata begitu kepadaku dia langsung lari keluar ruangan UKS.
Malampun tiba, malam itu aku ingin sekali menelepon Shinta (dia juga sahabatku), tetapi nggak diangkat. Akhirnya aku ke rumah Shinta.
Sesampainya disana, aku tak sengaja mendengar pembicaraan antara Shinta dengan Livia. Ada apa ini?
Dan Livia berkata pada Shinta,
“Shin, sebenarnya aku tuch suka sama……Leo. Tetapi nggak ada alasan untuk aku nggak mencintai Ridho karena dia sudah ngasih aku segalanya. Walaupun itu sebenarnya jerih payah bokapnya.
Tapi dia pernah menyelamatkan nyawaku!”
Tiba – tiba ia berhenti sejenak. Segera aku masuk ke kamar Shinta.
“Liv, Ridho sudah melakukan apa??”
“Leo, dia sudah menyelamatkan aku.”
“Nyelamatkan apa?”
“Kenapa sich! Kamu suka sama aku? Kamu cinta sama aku?”
“Ha…Ha…Ha…Nggak mungkinlah Liv. Kalau begitu aku pergi dulu ya…..”
Setelah itu, aku langsung meninggalkan rumah Shinta.
Aku langsung menuju ke rumah Livia dan mencurahkan isi hatiku kepada Dava(adik Livia).
“Gimana nich Va! Aku tuch sebenarnya suka sama kakakmu, tetapi aku nggak mungkin bilang itu semua ke kakakmu!
Aku nggak mau persahabatanku Va!”
“Kalau begitu kakak nggak usah suka sama kakakku ajah.”
“Ya nggak bisa begitu Va………”
Tiba – tiba Rani(dia juga sahabatku) datang,
“Dava, Leo, kalian lagi ngapain?”
“Nggak Ran, aku lagi bicara tentang Game sama Dava.”
“Nggak Kak Rani. Dia tadi bukan bicara tentang Game, tetapi Kak Leo bicara kalau dia…….”
Aku langsung menutup mulut Dava, dan membisiki Dava,
“Va, jangan bilang ke siapa – siapa. Termasuk kakakmu juga ya.”
“Kalian bisik – bisik apaan sich. Aku jadi curiga kalau ada apa – apa.”
“Nggak ada apa – apa kok Ran.”
“Pasti ini tentang Livia kan?”
“Nggak.”
“Ngaku aja dech!”
“Tapi jangan beri tahu ke yang lainnya ya?”
“OK dech. Tapi sebenarnya ada apaan sich?”
“Sebenarnya ya, aku akui kalau aku suka sama Livia, tetapi kalau aku jadian sama Livia, terus persahabatan kita hancur dong.”
“Kalau kamu suka sama Livia gak apa – apa kok, kami nggak akan nggangguin kalian untuk pacaran. Dan persahabatan kita nggak akan pernah hancur. Kami semua sudah tahu kalau kamu suka Livia, tetapi kecuali Livia.”
“Yang bener…
Ku nggak yakin kalau Livia juga suka sama aku.”
“Lho, kamu belum tahu ya kalau Livia tuch suka sama kamu dari lubuk hatinya yang paling dalam.”
“Ha…….
Yang benar.!!”
“Iya. Dia bilang sendiri ke aku.”
“Ya sudah ya? Ku mau pulang dulu. Makasih ya Ran.”
Keesokan harinya, pada saat istirahat sekolah, aku ke kelasnya Livia. Tetapi aku nggak ke Livia, aku mau ke Kevin(dia juga sahabatku). Dan aku berkata,
“Vin, kamu sudah tahu tentang aku sama Livia.”
“Sudah. Memangnya kenapa?”
“Kamu takut ungkapin perasaanmu ke Livia.”
“Iya. Vin, kamu mau bilangin perasaanku ke Livia.”
“Tenang aja. Kamu kan sahabatku.”
“Makasih ya Vin.”
Setelah sepulang sekolah, aku menemui Kevin sekali lagi,
“Vin, apakah kamu sudah bilang ke Livia?”
“Sudah”
“Terus dia jawab apa?”
“Sebenarnya sich dia mau jadi pacarmu, tetapi dia takut kalau persahabatan kita berantakan. Lalu ku jawab, sebenarnya kami semua sudah tahu kalau kalian berdua sama – sama suka.”
Tiba – Tiba Livia datang menghampiriku,
“Leo, Kevin, kalian berdua ngapain disini.”
“Nggak apa – apa kok, hanya bicara tentang…
Biasalah anak cowok. Sudah dulu ya, Leo, Livia, aku pulang dulu.”
“OK”,jawab kami berdua.
Kemudian aku dan Livia ngomong bersama – sama,
“Liv…”,”Leo…”
“Nggak kamu duluan yang bicara!”
“Kamu ulu aja Leo!”
“Baiklah aku duluan. Liv, sebenarnya waktu itu yang kita di rumahnya Shinta. Itu semuanya benar. Memang dari dulu aku suka sama kamu, tapi hanya sekedar sahabat aja. Tetapi sekarang tidak, rasanya setiap kamu gak ada didekatku, aku merasa kesepian. Terus setiap ketika kamu bersama orang lain hatiku merasa marah sekali. Livia maukah kamu jadi pacarku?”
“A…Ak….Akuu…”
Seluruh sahabatku Shinta, Ridho, Rany, dan Kevin berkata,
“YAA…….”
“Apa!!! Teman – teman!!!”
“Kau sebenarnya mau jawab iya kan. Ngaku aja dech Liv!”
“Benar teman – teman.”
“Apa Liv? Kamu mau jadi pacarku???”
“Iya Leo?!?!?”
“Akhirnya kalian berdua jadian juga….”
“Hei Leo!”
“Ya teman – teman.”
“Ingat PJ’nya!!!!”
“Ah! Kalian bisa aja sich.”
“Kalau begitu hubungan kalian tidak kami restui.”
“Baiklah besok sepulang sekolah.”
“Horeee…”
“Leo, sebaiknya kamu ajak tuch pacar barumu jalan. Ya udah ya kami pulang duluan. Selamat jalan – jalan ya Leo, Livia.”
Setelah sahabatku pergi aku langsung mengajak Livia jalan. Akhirnya impianku jadi kenyataan juga. Terima kasih Tuhan telah mendengarkan do’aku.
Keesokan harinya, aku menjemput Livia. Ternyata dia sudah berangkat duluan. Kemudian aku sambil berangkat ke sekolah juga mencari Livia.
Dan ternyata hingga aku sampai di sekolah aku tidak menemukan Livia.
Bel masuk telah berbunyi, aku tak tahu apakah Livia sudah datang apa belum. Setelah bel istirahat berbunyi, aku langsung ke kelasnya Livia. Dan aku menemui Kevin.
“Vin apakah Livia tadi masuk?”
“Nggak, dia tadi nggak kelihatan tuch waktu pelajaran.”
“Ya sudah makasih.”
Aku merasa heran, dan juga perasaanku tentang Livia. Apakah yang terjadi dengan Livia? Setelah pulang sekolah aku mencari dimana Livia dan menelusuri semua jalan yang pernah aku lewati bersama Livia. Ternyata dia tergeletak di pinggir jalan.
Kemudian aku membawanya ke Rumah Sakit terdekat dan memberitahukan kepada orang tuanya bahwa Livia telah ditabrak lari.
Setelah orang tuanya datang. Mereka menanngis, tetapi tangisan mereka tak seperti rasa sakitnya hatiku. Beberapa hari telah berlalu, tetapi Livia masih belum siuman juga. Aku terus meminta pertolongan kepada Tuhan, agar Livia cepat – cepat siuman.
Keesokan harinya, setelah aku pulang sekolah, aku langsung pergi ke Rumah Sakit tempat Livia dirawat. Dia akhirnya siuman juga dan berkata kepadaku,
“Le… Leo! Sebenarnya aku mencintaimu dengan setulus hatinya dan dari lubuk hatiku yang paling dalam.”
Setelah orang tuanya kuhubungi kalau Livia sudah siuman, dia langsung menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Aku merasa sangat sedih dan hatiku sakit sekali. Dan aku berjanji tidak akan melupakan Livia untuk selamanya, dan juga aku tidak akan pernah pacaran lagi, sebelum aku bisa menjaga seseorang yang aku cintai.

sumber

Kata Kata Mutiara Untuk Sahabat Terbaik

Persahabatan memang sesuatu yang indah yang bahkan sulit untuk dideskripsikan bagaimana rasanya. Sahabat adalah tempat mencurahkan berbagai perasaan yang sedang kita rasakan, apalagi hal-hal yang tidak mengenakkan pasti akan selalu disampaikan kepada sahabat. Untuk itu anda perlu memberikan kata kata mutiara untuk sahabat sebagai tanda terimakasih atas kelapangan mereka dalam menerima segala keluh kesahmu. Sebagai sahabat yang baik, anda harus dapat mencairkan suasana ketika keadaan sahabat anda sedang tidak baik. Salah satu caranya adalah dengan memberinya ucapan kata mutiara yang sudah kamu persiapkan khusus untuknya.
Kata-Kata-Mutiara-Untuk-Sahabat
Memberikan kata-kata mutiara untuk sahabat pada awalnya mungkin akan membuat canggung satu sama lain. Namun setelah itu sahabat yang mendapat kata-kata mutiara pasti merasa bahagia dan bangga mempunyai sahabat seperti anda. Anda dapat memakai kata-kata yang formal dalam menyampaikan kata-kata mutiara anda, atau alternatif lain anda dapat menyampaikan inti dari kata mutiara dengan bahasa anda sendiri agar terkesan lebih santai.
Variasi kata mutiara untuk sahabat sangat banyak jenisnya, anda dapat memilih yang sesuai dan menurut anda pas untuk disampaikan kepada sahabat anda agar persahabatan anda menjadi semakin berwarna dan lebih indah. Mari kita simak bersama beberapa contoh kata mutiara untuk sahabat tercinta kita.

Kumpulan Kata Kata Mutiara Untuk Sahabat

Sahabat adalah seseorang yang selalu menyampaikan kebenaran walau terkadang itu menyakitkan. Tapi itu dia lakukan untuk kebaikan. 
Tidak cukup hanya bekerja keras. Tapi harus disertai kerja ikhlas. Dan sepertinya itu juga tidak cukup, anda harus kerja ikhlas. 
Kapan orang bodoh mengalahkan orang pintar. Saat orang bodoh tadi terus bergerak, dan orang pintar tadi berhenti bergerak. 
Kawan sejati ialah orang yang mencintaimu meskipun telah mengenalmu dengan sebenar-benarnya yaitu baik dan burukmu. 
Terlalu banyak berharap akan menyakitimu, namun itu bukan alasan tuk menyesali diri. Ingat, sahabat selalu ada untukmu. 
Sahabat yang baik itu sangat sulit ditemukan, sulit dihilangkan, dan tak mungkin dilupakan. 
Lebih mudah memaafkan "kesalahan" musuh daripada memaafkan "kesalahan" seorang sahabat. 
Teman sejati adalah ia yang bersedia masuk dalam kehidupanmu saat seluruh dunia berjalan meninggalkanmu. 
Persahabatan meningkatkan kebahagiaan, dan meredakan kesengsaraan, dengan cara menggandakan kegembiraan kita, dan membagi kesedihan kita. 
Seorang pacar bisa menjadi mantan pacar, namun seorang sahabat akan selalu menjadi sahabat, takkan pernah menjadi mantan sahabat.

Kata kata mutiara untuk sahabat dapat menjadi media perekat persahabatan anda. Dengan kata mutiara tersebut anda dapat mengungkapkan apa yang anda rasakan selama ini ketika bersahabat dengannya. Anda juga dapat menyelipkan ungkapan rasa senang anda bersahabat dengannya dalam kata mutiara. Penggunaan kata mutiara dalam menyampaikan rasa sayang kepada sahabat akan sangat berarti. Anda juga dapat menggunakan kata mutiara untuk ketika anda sedang bertengkar dengan sahabat anda. Kata mutiara tersebut dapat menjadi media pendamai ketika terjadi masalah.
Demikianlah tadi sejumlah kata-kata mutiara pilihan yang dapat anda jadikan pilihan untuk diberikan kepada sahabat tercinta anda. Bingkailah kata-kata mutiara tersebut dengan momen yang pas agar penyampaian kata kata mutiara untuk sahabat tersebut dapat berkesan dan memberikan makna yang dalam bagi sahabat anda.

Hidup Adalah Perjalanan Ujian yang Panjang

Hidup Adalah Perjalanan Ujian yang Panjang

Dalam menghadapi kehidupan di dunia ini, manusia selalu berhadapan dengan dua keadaan silih berganti. Suatu saat merasakan suka, saat lain merasakan duka. Pada saat bahagia, terkadang manusia menjadi lupa. Sebaliknya, saat duka mendera, seringkali manusia berkeluh kesah.
Saudaraku...
jika ujian adalah sebuah konsekuensi atas keimanan kita, apakah kita akan lari? Bukankah ujian itu harus kita hadapi? Seberapa pun beratnya, seberapa pun pahitnya, sungguh kadang kita merasa bahwa diri kita adalah orang yang paling berat diuji oleh Allah tapi lihatlah wahai saudaraku, orang-orang beriman sebelum kita lebih berat ujian yang mereka terima, lihatlah di luar sana , mungkin banyak orang yang lebih berat ujiannya daripada kita.
Bagi hamba Allah SWT yang beriman, hidup adalah ujian. Selama hidup, selama itulah kita diuji Allah SWT. ''Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun.'' (QS Al-Mulk [67]: 2).
Saudaraku ..
Terkadang kita perlu merasakan sakit dan ujian bahkan jatuh hingga titik nol untuk menemukan nilai hidup itu sendiri. Yakinlah bahwa ujian Allah setara dengan kemampuan kita, ujian Allah selaras dengan kondisi kita “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya." (QS. Al-Baqarah: 286). Sahabat jalani saja ujian yang menerpa kita, jalani saja hidup ini dengan kewaspadaan, nikmati saja prosesnya, persiapkan diri kita untuk melanjutkan langkah-langkah kita selanjutnya, teruslah melangkah, mohonlah kepada Allah untuk diberikan punggung yang kokoh untuk memanggul segala ujian yang menerpa, ingatlah Allah lebih tahu yang terbaik buat kita.
Saudaraku ..
Allah SWT amat sayang kepada kita. Allah SWT tunjukkan cara menjawab ujian itu semua. ''Dan minta pertolonganlah kamu dengan kesabaran dan dengan shalat, dan sesungguhnya shalat sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusuk tunduk jiwanya.'' (QS Al-Baqarah [2]: 48).
Sabar itu pahit tapi buahnya manis, Semoga kita dijadikan Allah SWT, hamba-Nya yang lulus dari ujian.
Amin Ya Robbil Allamin.

sumber

Curahan Hati Seorang Wanita (Renungan Untuk Seorang Lelaki yang di dambakannya)

Curahan Hati Seorang Wanita (Renungan Untuk Seorang Lelaki yang di dambakannya)




“Akan ada hari dimana Allah menjadi saksi saat kau lingkarkan ikatan suci Cincin mas kawin dijariku yang kau pilih, walau aku tak sesempurna istri sang Nabi"
"Akan ada hari dimana kulingkarkan pula sumpah setia dijarimu yang kupilih sebagai imamku, yang surga-Nya tak bisa kumasuki tanpa ridho dari mu"
"Akan ada hari dimana kugelar sajadahku dan sajadahmu, kita bersujud dalam sepenggal waktu yang sama dan doa yang terucap dari mu ku Amini juga dalam hati 1 shaf dibelakangmu"
"Akan ada hari dimana selalu kunanti alunan Tausyiahmu sebagai pengantar tidurku dan rasa syukur karena-Nya telah memberikan cinta yang kutujukan padamu"
"Akan ada hari dimana kau dengungkan adzan dibalik daun telinga sosok mungil yang kelak mewarisi sebagian parasku dan sebagian tingkahmu"
"Akan ada hari dimana keteladananmu akan mengiringi tugasku sebagai Madrasah bagi keturunan kita"
"Akan ada hari dimana kita akan melihat nisan dan memesan sepetak lahan berdampingan untuk nanti ketika esok tak ada lagi"
"Akan ada hari dimana salah satu dari kita menghadap Ilahi, dengan pendamping hidup sholehah yang setia menemani sampai di akhir perjalanan nanti"
"Dan aku akan sabar menanti"
"Semoga Allah mengijinkan Sakinah bersamamu hadir suatu hari nanti hingga kelak dikumpulkan kembali di Surga-Nya nanti"

Aamiinn Allahuma Amiinn..
BismillaahiRRahmaaniRRahiim ::

Wahai diri..
Bukankah kau itu berharga..?
Kenapa kau harus bersedih hanya karena seorang pria..
Masih banyak pria lain untuk kau pilih..

Terlalu mahal kalau air matamu terbuang percuma..
Hanya untuk cinta yang memang tak bisa kau cipta..
Harusnya kau bahagia dengan cinta yang sudah ada..
Bukannya mencari cinta yang lain yang tak pernah singgah..
Bertahanlah dengan satu cinta yang kau pilih..

Janganlah kau berduka..
Hanya karena tak bisa memiliki dia yang kau cinta..
Cobalah untuk membuka mata dan hatimu..
Mungkin kau bisa melihat sosok lain selain dia..

Dan lihatlah siapa yang lebih pantas untuk kau cinta..
Biarlah rasamu datang dengan sendirinya..
Sampai waktu yang telah ditentukan-NYA..
Sabarkan Hatimu dalam menanti sebuah Keindahan..
Semuanya pasti akan indah pada waktunya..

Insya ALLAH.
"Renungan Singkat Untuk Cowok"

Berhati-hatilah jika kau membuat seorang wanita menangis, karena malaikat menghitung air matanya.

Wanita diciptakan dari tulang-tulang rusuk pria. Bukan dari kakinya untuk diinjaknya, bukan dari kepalanya untuk ditinggikannya.

Tapi dari sisinya tuk bersama dengannya, dibawah lengannya untuk dilindunginya, dan disebelah hatinya tuk dicintai olehnya.

Setuju gak mas Bro ??
" Mengetahui apa yang kita inginkan haruslah disertai dengan keberanian untuk melangkah dan mencoba. Tidak cukup untuk naik ke lantai dua dengan hanya memandangi tangga. Kita harus benar-benar melangkah menaiki tangga tersebut, karena tahu yang baik saja tidaklah cukup tanpa menindakinya."
DI UJUNG PENANTIAN, Kapankah jodoh akan segera datang?

Bismillahirrohmanirrohim....(◕‿◕)
Ada saat-saat ketika resah tak menemukan jawabnya. Ada saat-saat ketika gelisah tak menemukan muara hatinya kecuali dengan menikah. Di saat kesendirian tak sanggup kita tanggungkan, sementara peristiwa suci itu tak datang-datang juga, ada yang perlu kita renungkan dengan hati yang jernih; "Kesendirian yang panjang itu, apakah sebabnya sehingga tak kunjung berakhir?"

Ada yang tak bisa kita jawab, karena semua rahasia ada dalam genggaman-Nya. Tetapi ada satu hal yang bisa kita coba telusuri diam-diam, dengan hati yang tenang dan jiwa yang bersih. Kita mencoba merenung sejenak secara jujur, apakah lambatnya jodoh itu merupakan ujian atas ketakwaan kita yang tinggi kepada-Nya, sebagai teguran atas kekhilafan-2 dan bahkan kesombongan kita terhadap apa yang diberikan ALLAH SUBHANAHU WA TA'ALA kepada kita, ataukah jodoh sesungguhnya belum saatnya tiba.

Bukankah segala sesuatu ada masanya sendiri?

Bukankah kematian juga tidak datang pada saat yang sama, usia yang sama dan keadaan yang sama untuk setiap orang?

Cobalah bertanya sejenak pada suara hati nuranimu, tanpa perlu menitikkan air mata duka. Kalau malam telah lelap, dan suara-suara telah sunyi, renungkanlah dengan jernih apakah jodoh yang tak datang-datang itu untuk menakar keimanan kita kepada-Nya? Apakah jodoh yang tak datang-datang itu sebagai kesempatan dari ALLAH agar kita menyiapkan bekal yang lebih sempurna untuk memenuhi amanah sebagai pembimbing anak-anak yang kita lahirkan kelak?

Cobalah untuk bertanya ... Dan tahanlah dulu kerisauan itu sahabat ku.....

"Bila dirimu sekarang sedang menunggu seseorang untuk menjalani kehidupan menuju ridho-Nya, bersabarlah dengan keindahan.. Demi ALLAH, dia tidak datang karena ketampanan,
kecantikan, kepintaran ataupun kekayaan. Tapi Allah-lah yang menggerakkan.

Janganlah tergesa untuk mengekspresikan cinta kepada dia
sebelum ALLAH mengizinkan. Belum tentu seseorang yang kau cintai
adalah yang terbaik untukmu. Siapakah yang lebih mengetahui melainkan ALLAH?

Simpanlah segala bentuk ungkapan cinta dan derap hati rapat-rapat, ALLAH akan menjawabnya dengan lebih indah disaat yang tepat.

"Yakinlah semua akan indah pada Akhirnya sahabat ku" ^___^
Semoga ALLAH segera mendatangkan jodoh yang terbaik bagi kita. 

sumber

Dunia Farmasi


farmasi
Dunia Farmasi
Bidang farmasi berada dalam lingkup dunia kesehatan yang berkaitan erat dengan produk dan pelayanan produk untuk kesehatan. Dalam sejarahnya, pendidikan tinggi farmasi di Indonesia dibentuk untuk menghasilkan apoteker sebagai penanggung jawab apotek, dengan pesatnya perkembangan ilmu kefarmasian maka Apoteker atau dikenal pula dengan sebutan farmasis, telah dapat menempati bidang pekerjaan yang makin luas. Apotek, rumah sakit, lembaga pemerintahan, perguruan tinggi, lembaga penelitian, laboratorium pengujian mutu, laboratorium klinis, laboratorium forensik, berbagai jenis industri meliputi industri obat, kosmetik-kosmeseutikal, jamu, obat herbal, fitofarmaka, nutraseutikal, health food, obat veteriner dan industri vaksin, lembaga informasi obat serta badan asuransi kesehatan adalah tempat-tempat untuk farmasis melaksanakan pengabdian profesi kefarmasian.
Buku Pharmaceutical handbook menyatakan bahwa farmasi merupakan bidang yang menyangkut semua aspek obat, meliputi : isolasi/sintesis, pembuatan, pengendalian, distribusi dan penggunaan.
Silverman dan Lee (1974) dalam bukunya, “Pills, Profits and Politics”, menyatakan bahwa :
  1. Pharmacist lah yang memegang peranan penting dalam membantu dokter menuliskan resep rasional. Membantu melihat bahwa obat yang tepat, pada waktu yang tepat, dalam jumlah yang benar, membuat pasien tahu mengenai “bagaimana,kapan,mengapa” penggunaan obat baik dengan atau tanpa resep dokter.
  2. Pharmacist lah yang sangat handal dan terlatih serta pakart dalam hal produk/produksi obat yang memiliki kesempatan yang paling besar untuk mengikuti perkembangan terakhir dalam bidang obat, yang dapat melayani baik dokter maupun pasien, sebagai “penasehat” yang berpengalaman.
  3. Pharmacist lah yang meupakan posisi kunci dalam mencegah penggunaan obat yang salah, penyalahgunaan obat dan penulisan resep yang irrasional.
 Sedangkan Herfindal dalam bukunya “Clinical Pharmacy and Therapeutics” (1992) menyatakan bahwa Pharmacist harus memberikan “Therapeutic Judgement” dari pada hanya sebagai sumber informasi obat.
Melihat hal-hal di atas, terlihat adanya suatu kesimpangsiuran tentang posisi farmasi. Dimana sebenarnya letak farmasi ? di jajaran teknologi, Ilmu murni, Ilmu kesehatan atau berdiri sendiri ? kebingungan dalam hal posisi farmasi dalam keilmuan akan membingungkan para penyelenggara pendidikan farmasi, kurikulum semacam apa yang harus disajikan, semua bidang farmasi atau dikelaskan agar lebih terfokus.
Di Inggris, sejak tahun 1962, dimulai suatu era baru dalam pendidikan farmasi, karena pendidikan farmasi yang semula menjadi bagian dari MIPA, berubah menjadi suatu bidang yang berdiri sendiri secara utuh.rofesi farmasi berkembang ke arah “patient oriented”, memuculkan berkembangnya Ward Pharmacy (farmasi bangsal) atau Clinical Pharmacy (Farmasi klinik).
Di USA telah disadari sejak tahun 1963 bahwa masyarakat dan profesional lain memerlukan informasi obat tang seharusnya datang dari para Apoteker. Temuan tahun 1975 mengungkapkan pernyataan para dokter bahwa apoteker merupakan informasi obat yang “parah”, tidak mampu memenuhi kebutuhan para dokter akan informasi obat bahkan paradigma tersebut masih melekat sampai saat ini dikarenakan kebingungan yang terjadi pada akar bidang keilmuan farmasi yang lebih luas daripada kedokteran yang berorientasi pada pasien, sedangkan farmasi pada masa pendidikan S1 tidak hanya dijejali dengan kuliah farmakologi, farmasetika, farmakokinetik, anatomi fisiologi manusia DLL (ilmu farmasi klinik), tetapi juga mempelajari teknologi farmasi, kimia farmasi, DLL sampai kepada manajemen farmasi. farmasi
Perkembangan terakhir adalah timbulnya konsep “Pharmaceutical Care” yang membawa para praktisi maupun para “profesor” ke arah “wilayah” pasien. Secara global terlihat perubahan arus positif farmasi menuju ke arah akarnya semula yaitu sebagai mitra dokter dalam pelayanan pada pasien. Apoteker diharapkan setidak-tidaknya mampu menjadi sumber informasi obat baik bagi masyarakat maupun profesi kesehatan lain baik di rumah sakit, di apotek atau dimanapun Apoteker berada.
Pelayanan obat kepada pasien melalui berbagai tahapan pekerjaan meliputi diagnosis penyakit, pemilihan, penyiapan dan penyerahan obat kepada pasien yang menunjukkan suatu interaksi antara dokter, farmasis, pasien sendiri. Dalam pelayanan kesehatan yang baik, informasi obat menjadi sangat penting terutama informasi dari farmasis, baik untuk dokter, perawat dan pasien.